Aku
menyukaimu. Aku membencimu.
Aku tak bisa menerima setiap perubahan yang terjadi
dalam diriku saat bertemu denganmu. Tapi kau seperti air, mengalir begitu saja di dalam
hidupku.
Dan sebentar saja, kau sudah jadi bagian yang tak bisa kusisihkan dari
hari-hariku.
Sebagian dariku tak siap
tunduk begitu saja di bawah pesonamu.
Dan niatmu menyaru bersama senyuman dan
tenang sikapmu.
Kau membiarkan aku
menebak-nebak ke mana kau akan membawa hubungan ini.
Aku bertanya-tanya dan tak
bisa berhenti menyipit curiga ke arahmu.
Sampai suatu saat, kau membuka rahasia
hatimu.
Kau ingin
menggantikannya dia yang sudah meninggalkanku.
Kau bilang lagi, bisa
mencintaiku seperti yang aku mau.
Aku mendengus, menahan diri supaya tidak
tertawa.
Betapa tidak, kau baru saja mengatakan hal yang tak masuk
akal.
Cintalah yang melukaiku dulu.
Bagaimana mungkin kau bisa meyakinkanku
bahwa kali ini cinta jugalah yang akan menyelamatkanku.
Tapi
bagaimana mungkin aku sanggup mengabaikanmu, kalau semua tentangmu mengikuti
seperti bayangan menempel di bawah kakiku?
Dan bagaimana pula caranya membakar
habis semua rindu yang mengendap di hatiku?
Aku
tak ingin harapan datang lagi, berkunjung di hati, diam untuk beberapa waktu,
lalu meninggalkanku dalam kesedihan berlipat-lipat.
Aku tahu pasti ini
kesalahan yang seharusnya tidak boleh terjadi.
Tapi kau hanya diam, tanpa
suara. Menggenggam tanganku erat seolah tak ingin melepasnya lagi.
Dan sebelum
aku berhasil menyangkal cintamu lagi, aku menyadari kau meninggalkan sesuatu di
tanganku.
Sesuatu yang kukenali sebagai... harapan.
Dan, kali ini, aku ingin
menggenggamnya, memilikinya sekalipun seandainya itu salah.
Karena kita tidak pernah tahu siapa yang kita tunggu dan membuat kita bahagia.
Kita
akan selalu bersama dengan yang benar-benar kita cintai, sekeras apapun kita
menghindar. bukankah begitu?
karena Saat tergugu dan ragu,
Tuhan menghadiahi kamu.
Kamu, yang membawaku ke dunia baru. Kamu, yang
membuatku tahu, tak perlu apa-apa untuk memulai sesuatu.
Karena aku telah di
sini, denganmu. siapa yang menyangka, ujung benang merah milikku ternyata tersangkut di
kelingkingmu.
Saat pertama kali bertemu,
tak ada yang asing. Kau seperti dikirimkan dari masa lalu,
seperti seseorang yang memang seharusnya menghuni ruang hatiku.
Namun, tak ada
dari kita yang menyadarinya. Sampai aku bergerak menjauh, dan kau berbalik
menghilang. Padahal, rinai tawamu kusimpan, dan selalu kujaga dengan rindu
menderu. Bukankah
sudah diikat-Nya ujung benang merahmu di kelingkingku? Jadi, aku percaya kau
akan menemukanku. Menggenapkan rindu yang separuh.




2 komentar:
Mulailah mengikhlaskan.
Semoga semua jadi lebih baik ^_^
Tdk ada hubungan antara manusia yg tdk d hiasi airmata, baik itu karna kesedihan mendalam atau karna saking bahagianya. Keep smile :-)
Bismillah za.. ^_^
Posting Komentar