"Saat pertama kali aku melihat dia hari itu, aku sudah berbohong beberapa kali.
Aku bilang, senyumannya waktu itu tak akan berarti apa-apa. Aku bilang, gempa kecil di dalam perutku hanya lapar biasa. Padahal aku sendiri tahu, sebenarnya aku mengenang dirinya sepanjang waktu. Karena dia aku jadi ingin mengulang waktu.
Dan suatu hari, kami bertemu lagi.
Di saat berbeda, tetapi tetap dengan perasaan yang sama. Perasaanku melayang ke langit ketujuh karena bertemu lagi dengan dirinya. Jantungku berdetak lebih cepat seolah hendak meledak ketika berada di dekatnya. Aku menggigit bibir bawahku, diam-diam membatin, “Ah ini bakal jadi masalah. Sepertinya aku benar-benar jatuh cinta kepadamu,”
Apakah aku bisa sedetik saja berhenti memikirkan dirinya? Aku tak tahu harus berbuat apa. Aku jatuh cinta, tetapi ragu dan malu untuk menyatakannya."
ahh...bagaimana ini... ternyata aku juga sudah berbohong beberapa kali.... penggalan novel itu seperti mengingatkan ku lagi pada sosok mu yg sangat aku kagumi sejak pertama kali kita diperkenalkan ....bahkan sebelum kita sempat bertemu .....teringat pisang coklat darimu, jaket hitam itu dan bioskop itu, mushola itu, gerimis itu, semua membuat ku semakin tak mampu menyembunyikan betapa bahagianya saat pertemuan kita.... haaah.... tapi sayangnya itu adalah pertemuan pertama dan terakir kita .....
"Mungkin, jalan kita tidak bersimpangan. Ya, jalanmu dan jalanku. Meski, diam-diam, aku masih saja menatapmu dengan cinta yang malu-malu.
Aku dan kamu, seperti hujan dan teduh. Pernahkah kau mendengar kisah mereka? Hujan dan teduh ditakdirkan bertemu, tetapi tidak bersama dalam perjalanan. Seperti itulah cinta kita. Seperti menebak langit abu-abu.
Mungkin, jalan kita tidak bersimpangan...."
ya...aku lah si teduh itu, dan kamu sang hujan... bahkan meskipun kini ada gerimisku yg sering mengunjungi hatiku lebih sering darimu ...entahlah...masih ada kamu...secuil atau sebesar apa aku juga tidak paham....mungkin ini memang agak rumit... tapi kamu tetaplah hujan...yg ditakdirkan untuk tidak bersama teduh....
dan untuk gerimisku..aku ingin bicara
"
Ini cinta yang sulit. Aku tak bisa mencintaimu seperti yang aku mau.
Namun, ketika dia hadir dalam hidup-mu di antara kita-aku pun sadar kebahagiaanku pelan-pelan akan memudar. Betapa tidak, dia bisa memberimu cinta dan perhatian. Menggenggam tanganmu hingga akhirnya kau terlelap di sisinya. Dia melakukan semua yang ingin aku berikan padamu.
Dan hari ini, aku memandangi senja pertama yang kunikmati tanpa dirimu. Aku belajar berbahagia untukmu. Dia yang paling tepat. Aku tahu itu-tapi..., bagaimana denganku?
Bagaimana caraku bahagia tanpa dirimu? "
yaa...itu mungkin hanya penggalan kata yg menggambarkan kekawatiranku akan kehilangan dirimu....karena kamu yg telah mengusir mendung yg ditnggalkan hujan kemarin...dan kamu mengukir pelangi di langitku saat ini... bgamana bisa aku tanpamu...tapi knp aku blm bisa mencintaimu seperti yang aku mau.... bersabarlah gerimisku...beri aku sedikit lagi waktu... dan percayalah bahwa aku pun ingin jatuh cinta padamu.... aku minta maafkan aku jika aku masih menyimpan bayangan hujan dalam tirai malamku....tapi percayalah
"Tak ada yang bisa melakukan sebaik dirimu. Pertahananku begitu rapuh akan pesonamu. Potongan-potongan kejadian indah berlompatan, menyesaki benakku dengan imaji dirimu; dari caramu membuatku tersipu, tatapan dalam langsung ke arahku, sampai kata-kata manis yang kuingat selalu.
Merindukanmu membuatku sempat lupa kenapa aku harus melupakanmu."
"
Orang bilang, pertemuan pertama selalu kebetulan. Tapi bagaimaba caramu menjelaskan pertemuan-pertemuan kita selanjutnya? Apakah Tuhan campur tangan di dalamnya?
Kita bukanlah dua garis yang tak sengaja bertabrakan. Sekeras apa pun usaha kita berdua, saling menjauhkan diri-dan menjauhkan hati-pada akhirnya akan bertemu kembali.
Kau tak percaya takdir, aku pun tidak. Karenanya, hanya ada satu cara untuk membuktikannya... Kau, aku dan perjalanan ini."
Senin, 18 Juni 2012
Langganan:
Posting Komentar (Atom)




0 komentar:
Posting Komentar